30 June 2014

Memahami Peran LPS dengan Analogi Sepakbola

Sejak tanggal 12 Juni sampai 13 Juli 2014, perhatian para penggemar bola akan tertuju pada Piala Dunia di Brazil. Diskusi dan prediksi negara yang akan menjadi juara, pemain bintang, dan strategi permainan menjadi perbincangan di banyak tempat. Dengan memanfaatkan momentum tersebut, tulisan ini mencoba memberi pemaparan mengenai peran dan fungsi LPS dalam sistem perbankan dengan menggunakan analogi permainan sepakbola. Financial Safety Nets Menurut pedoman International Association of Deposit Insurers (IADI), terdapat 3 hal pokok yang perlu dipertimbangkan dalam penerapan sistem penjaminan simpanan, yakni: (1) penjaminan simpanan dalam jumlah terbatas (limited guarantee); (2) program penjaminan disesuaikan dengan kondisi sistem perbankan; dan (3) penjaminan simpanan menjadi bagian dari jaring pengaman keuangan (financial safety nets/FSN). Pembahasan FSN disini dibatasi hanya meliputi jaring pengaman sistem perbankan. Komponen FSN pada intinya terdiri dari: i. Pengaturan dan pengawasan perbankan yang mendorong bank dikelola secara prudent; ii. Kebijakan lender of last resort untuk mengatasi permasalahan likuiditas yang dihadapi bank; iii. Pelaksanaan penjaminan simpanan dan resolusi bank gagal sebagai bagian exit strategy penyelesaian permasalahan bank; dan iv. Kebijakan pencegahan dan penanganan krisis, termasuk pengaturan mengenai sumber pendanaannya. Jaring pengaman dalam kerangka FSN dimaknai sebagai jaring yang secara proaktif memelihara stabilitas sistem perbankan, bukan jaring pengaman pada pertunjukan sirkus yang hanya bersifat pasif dan statis. Setiap unsur dalam FSN berupaya aktif mengidentifikasi sumber permasalahan (sources of vulnerability), serta melakukan upaya pencegahan permasalahan secara dini sesuai kewenangannya masing-masing. Apabila satu upaya tidak dapat menyelesaikan permasalahan pada tahap awal, akan ada upaya penyelesaian berikutnya secara bertahap dan berjenjang sesuai magnitude permasalahan. Sehingga kalaupun krisis tidak dapat dicegah, dampak ekonomi dan sosial dari krisis tersebut telah dapat diantisipasi dan diminimalkan. FSN dan Formasi Sepakbola Dalam pertandingan sepakbola, pelatih selalu menentukan formasi tim yang dipandang sesuai dengan strategi dan lawan yang dihadapi. Salah satu formasi standar tim sepakbola adalah 4 3 3 yang berarti di depan penjaga gawang terdapat 4 pemain belakang, 3 pemain tengah, dan 3 pemain depan. Formasi tersebut tidak kaku dan dapat berubah menyesuaikan kondisi permainan di lapangan. Pemain depan memiliki tugas utama menjadi ujung tombak serangan dan sekaligus menjadi pertahanan lapis pertama. Pemain tengah bertugas membantu mengatur serangan serta menjadi pertahanan lapis kedua. Pemain belakang tugas utamanya menjaga pertahanan tim agar tidak dapat ditembus lawan, namun dapat juga membantu serangan. Sedangkan kiper merupakan lapis pertahanan terakhir. Dengan analogi FSN, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berperan sebagai pemain depan. Pengaturan dan pengawasan mikroprudensial yang kuat dan efektif diharapkan dapat mendorong bank untuk mencapai goal (tujuan) sistem perbankan yang sehat, stabil, bertumbuh, dan bermanfaat bagi rakyat banyak. Selain itu, dengan mengidentifikasi permasalahan secara dini dan tindakan perbaikan yang segera (prompt corrective actions) diharapkan permasalahan perbankan dapat diatasi pada stadium awal. Bank Indonesia berperan sebagai pemain tengah yang bertugas menetapkan kebijakan makroprudensial (moneter dan sistem pembayaran) yang kondusif bagi industri perbankan, sehingga dapat membantu menciptakan peluang terjadinya goal. Dalam hal suatu bank menghadapi permasalahan likuiditas, Bank Indonesia dapat memberikan fasilitas pinjaman likuiditas sebagai bentuk pertahanan lapis kedua. Sedangkan peran LPS dalam FSN dianalogikan sebagai pemain belakang yang menjadi pertahanan lapis ketiga. LPS menjamin simpanan nasabah bank yang dicabut izinnya dan melaksanakan resolusi (penyelamatan) bank gagal. Bank gagal dan bank yang dicabut izinnya pada umumnya mengalami permasalahan solvabilitas. Pelaksanaan fungsi tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan, rasa aman, dan ketenangan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Pemain belakang yang handal dan sistem pertahanan yang efektif diharapkan dapat menghadang setiap serangan lawan.

0 comments: